MAKASSAR – Tim dosen dari Politeknik ATI Makassar berkomitmen nyata dalam menguatkan kapasitas masyarakat pesisir di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Melalui program pendampingan yang berfokus pada inovasi pascapanen dan penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya rumput laut di Kelurahan Lembang, langkah ini diambil guna memperkokoh mata pencaharian masyarakat secara berkelanjutan.
Ketua Tim TFCCA Politeknik ATI Makassar, Dr. Sariwahyuni, menjelaskan dalam sosialisasi program bahwa inisiatif ini dirancang agar para petani tidak lagi sekadar menjual rumput laut dalam bentuk bahan baku mentah. Dengan adanya inovasi ini, masyarakat didorong untuk mampu memprosesnya menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis tinggi. Harapannya, pendapatan mereka dapat terdongkrak tanpa harus memberikan beban atau tekanan berlebih pada ekosistem laut sekitar.
Program yang mengusung tajuk "Inovasi Pascapanen Rumput Laut untuk Mata Pencaharian Berkelanjutan Masyarakat Pesisir Desa Lembang dan Desa Lamalaka" ini berjalan berkat dukungan dana hibah Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA). TFCCA sendiri merupakan skema kemitraan strategis antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang memfokuskan kegiatannya pada pelestarian alam laut melalui pemberdayaan komunitas lokal. Program ini juga telah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng.
Dalam implementasinya, pendampingan tidak hanya menyasar pada aspek teknis pascapanen untuk menaikkan nilai jual komoditas, tetapi juga mencakup penguatan manajemen organisasi, tata kelola kelompok, serta strategi pengembangan bisnis terpadu demi memperluas jangkauan pasar.
Rangkaian program ini akan digulirkan secara terstruktur dan bertahap, meliputi beberapa agenda penting, di antaranya:
- Pengumpulan dan penyusunan data dasar.
- Pembangunan fasilitas greenhouse untuk pengeringan rumput laut berbasis teknologi Internet of Things (IoT).
- Penyediaan fasilitas ekstraksi karagenan dalam skala komunitas.
- Pengolahan limbah sisa produksi menjadi Pupuk Organik Cair (POC).
- Penguatan kapabilitas usaha, fasilitasi sertifikasi produk, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.
Di tempat terpisah, Direktur Politeknik ATI Makassar, Muhammad Basri, menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat ini. Basri menegaskan bahwa sinergi yang solid antara akademisi, pemerintah daerah, mitra konservasi, dan warga pesisir adalah formula utama untuk menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga ekosistem kelautan tetap lestari.
Program di Bantaeng ini diharapkan dapat berjalan sukses sehingga bisa menjadi percontohan (role model) yang dapat diterapkan di wilayah-wilayah sentra produksi rumput laut lainnya di Indonesia.

